Ini kali yah yang dinamakan iseng-iseng berhadiah. Hahahaha... tapi hadiah nya bukan berupa penghargaan atau semacam kado apalah. Hadiahnya ya tentu karya, dari hasil ngelamun dan bosan akhirnya bisa menghasilkan sesuatu. Walaupun hasilnya gak luar biasa tapi ya setidaknya bisa dinikmatilah. Walaupun gak minta izin sama yang ngecover lagunya dulu, tapi gak apa-apa lah. ahahahahahaha selamat menikmati :)
Implengan mah tos tebih meuntas lautan, tos pungkal-pengkol unggal halangan. Tapi nu katembong ngan omongan.
Rabu, 10 Juli 2013
Amburadul
Ini malu sekali rasanya, aku seakan diburu oleh segerombol cermin. Siapa diriku ini, yang tengah melamun didepan banyak orang yang hilir mudik. Setumpuk pikiran diotak ku, yang tengah membebani seluruh tubuh ini. Sakit.... ini jelas sakit, mengertilah ini benar-benar sakit. Aku lihat ada dia, melintas dihadap ku namun rasanya dia tak melihat ku.
Apa yang seharusnya menjadi fokus pikiran ku, semua seakan tak beres. Atau yang tidak beres ini memang tidak beres. Dia dimana dia ? Aku ingin sekali rasanya berteriak namanya, dan menyuruh dia untuk diam disampingku, namun namun namun dia tak pernah bisa ada disampingku. Dia terlalu sibuk, dia terlalu banyak urusan yang jelas tidak sama dengan ku. Aku diam aku hanya diam, aku cuma bisa diam. Mengertilah aku hanya diam. Tak banyak yang bisa ku kerjakan, selain menulis hal yang tidak jelas ini, aku jelas pusing ini sagat pusing, rasanya ingin sekali menangis, mengapa aku mengapa???? Aku sangat menyebalkan sekali, kenapa dengan aku ini.Kenapa? Aku sangat pusing sekali, aku tidak punya teman bercerita, tapi aku juga tidak bisa bercerita.
Apa ini maksudnya?
menceritakan hal yang amburadul seperti ini!!! Dasar ini terlalu amburadul.
Apa yang seharusnya menjadi fokus pikiran ku, semua seakan tak beres. Atau yang tidak beres ini memang tidak beres. Dia dimana dia ? Aku ingin sekali rasanya berteriak namanya, dan menyuruh dia untuk diam disampingku, namun namun namun dia tak pernah bisa ada disampingku. Dia terlalu sibuk, dia terlalu banyak urusan yang jelas tidak sama dengan ku. Aku diam aku hanya diam, aku cuma bisa diam. Mengertilah aku hanya diam. Tak banyak yang bisa ku kerjakan, selain menulis hal yang tidak jelas ini, aku jelas pusing ini sagat pusing, rasanya ingin sekali menangis, mengapa aku mengapa???? Aku sangat menyebalkan sekali, kenapa dengan aku ini.Kenapa? Aku sangat pusing sekali, aku tidak punya teman bercerita, tapi aku juga tidak bisa bercerita.
Apa ini maksudnya?
menceritakan hal yang amburadul seperti ini!!! Dasar ini terlalu amburadul.
Bandung, 10 July 2013
Sahabat
di
tempat
Assalamualaikum wr.wb
Hay, apa kabar? aku hanya sendiri dimalam yang sunyi, tentunya dikamar yang nyaman ini. Aku sungguh merasakan hal ganjil, tapi ini bukan horor seperti yang kau pikirkan. Hanya sebuah perasaan yang kurang saja. Sepertinya karena tidak bertemu dengan pujaan hati, hahahahahahahaha sial lagi-lagi menjadi pengagum rahasia. Pasti kau sedang menertawakan ku! Tapi, tertawa sajalah sepuasnya, aku sudah biasa dengan ledekan-ledekan kecil itu.
Dia semakin hebat saja, jauh berbeda dengan ku. Pekerjaan ku ya seperti ini, hanya bisa bercerita tentang rasa yang menggebu dalam hati. Tapi dia dapat menuliskan hal-hal luar biasa yang ia cari. Sungguh aku merasa sangat berada dibawah, ketika membaca tulisan-tulisan dia. Semakin kagum namun semakin membuat ku tahu diri siapa aku.
Kau pasti sudah bosan, mendengarkan aku menceritakan sesosok pujaan hati ku yang hebat itu. Tapi please untuk kali ini, aku benar-benar tidak bisa menahan kata-kata yang ingin terus membicarakannya. Hahahaha ya sepertinya aku sedang rindu berat. Dia yang tak pernah sedikitpun menyapa aku, dia yang tak pernah mempedulikan ku. Tapi tak apalah sudah bisa mengenalnya itu cukup buat ku. Aku tidak menyesali menyimpan rasa ini untuk orang yang belum tentu bisa ku miliki.
Ok..ok... mungkin aku cukupkan sekian saja, bercerita sedikit tentang pujaan hati ku. Ya... aku tahu kau sudah bosan dan tidak merespond pembicaraan ku lagi hahahahaha. Doakan aku tetap bisa tersenyum melihat dia bahagia. See you....... :)
Thaks very much
Anonim
di
tempat
Assalamualaikum wr.wb
Hay, apa kabar? aku hanya sendiri dimalam yang sunyi, tentunya dikamar yang nyaman ini. Aku sungguh merasakan hal ganjil, tapi ini bukan horor seperti yang kau pikirkan. Hanya sebuah perasaan yang kurang saja. Sepertinya karena tidak bertemu dengan pujaan hati, hahahahahahahaha sial lagi-lagi menjadi pengagum rahasia. Pasti kau sedang menertawakan ku! Tapi, tertawa sajalah sepuasnya, aku sudah biasa dengan ledekan-ledekan kecil itu.
Dia semakin hebat saja, jauh berbeda dengan ku. Pekerjaan ku ya seperti ini, hanya bisa bercerita tentang rasa yang menggebu dalam hati. Tapi dia dapat menuliskan hal-hal luar biasa yang ia cari. Sungguh aku merasa sangat berada dibawah, ketika membaca tulisan-tulisan dia. Semakin kagum namun semakin membuat ku tahu diri siapa aku.
Kau pasti sudah bosan, mendengarkan aku menceritakan sesosok pujaan hati ku yang hebat itu. Tapi please untuk kali ini, aku benar-benar tidak bisa menahan kata-kata yang ingin terus membicarakannya. Hahahaha ya sepertinya aku sedang rindu berat. Dia yang tak pernah sedikitpun menyapa aku, dia yang tak pernah mempedulikan ku. Tapi tak apalah sudah bisa mengenalnya itu cukup buat ku. Aku tidak menyesali menyimpan rasa ini untuk orang yang belum tentu bisa ku miliki.
Ok..ok... mungkin aku cukupkan sekian saja, bercerita sedikit tentang pujaan hati ku. Ya... aku tahu kau sudah bosan dan tidak merespond pembicaraan ku lagi hahahahaha. Doakan aku tetap bisa tersenyum melihat dia bahagia. See you....... :)
Thaks very much
Anonim
Rabu, 05 Juni 2013
Sholat Subuh Berjamaah
Oleh : Nita Juniati
Terlihat laki-laki tua mendatangi mesjid untuk sholat subuh. Yang akhirnya hanya enam orang laki-laki tua yang melaksanakan sholat subuh berjamaah. Tak ada seorang pun pemuda yang datang untuk melaksanakan sholat subuh berjamaah. "Apa harus menunggu tua untuk rajin mengdatangi mesjid?" guyonan seorang wanita yang tengah duduk mengamati.
Mesjid yang ukurannya kecil pun terlihat luas. Tidak ada yang mengisi barisan-barisan kosong. Hanya satu barisan yang terisi. Suara yang tak lagi lantang dengan tubuh yang sudah renta masih memiliki semangat tinggi untuk melaksanakan sholat berjamaah dimesjid.
"Setiap adzan subuh, yang terdengar kebanyakan suara kakek-kakek. Jarang bahkan tidak pernah mendengar suara anak muda" Ujar warga sekitar mesjid. Jauh dari mesjid menjadi alasan seorang pemuda enggan untuk sholat subuh di mesjid seperti yang di ungkapkan seorang pemuda "Bukan nya gak mau kemesjid, tapi jauh kemesjidnya, terkadang suka telat bangun jadi lebih baik sholat di rumah aja" ujarnya sambil tertawa.
"Membangun mesjid bukan hanya untuk menjadi penghias kampung, tapi yah harus di manfaatkan untuk beribadah. Mau yang tua mau yang muda, melangkahlah kemesjid dengan niat beribadah karena Allah" Ujar laki-laki tua yang ditemui dimesjid.
Cambuk-cambuk Menerkam
oleh : Nita Juniati
Jemari ku terus menari-nari diatas huruf yang acak-acakan ini. Yang tak begitu memperhatikan arah yang kan ku bawa. Aku masih ingin bertanya tentang mereka yang membuat ku senang dengan kegiatan seperti ini.
Orang-orang besar yang akan ku temui suatu saat nanti. Kini mencoba merangkul ku menuju impian besar. Menyemangati, memotivasi, mendorong, membangun mimpi-mimpi pasti. Ntah dimana harus ku mulai semangat besar yang sedang berkobar. Ntah kapan memulai menekuni untuk menggapai impian besar.
Cambuk-cambuk hebat yang terus mencambuk ku keras. Bukan sakit yang terasa, tapi rasa ingin meraih yang semakin berkobar. Bara api pun rasanya terkalahkan dengan semangat luar biasa ini. "Hai orang-orang hebat, datang darimana kalian? mengapa kita baru bertemu malam ini? bukan kah sebelumnya kita saling berbicara, tapi mengapa kalian baru mencambuk ku sekeras ini?" tanya ku yang tak mendapati jawaban.
Malam ini tak ku temui angin, yang membawa ku terbang. Malam ini tak ku temui dingin yang membawa ku mencair. Malam ini yang ku temui hanya api-api besar yang datang menjadi cambuk. Malam ini dan benar-benar hanya malam ini, mereka datang seperti menerkam ku habis-habisan.
Selasa, 28 Mei 2013
Segelas Teh Manis
“Regi!” teriakan ibu yang selalu menjadi pembuka setiap pagi dalam cerita hari-hari ku. “Regita ayo cepat bangun, anak gadis jam sembilan pagi belum bangun! Mau jadi apa kamu? Ayo cepat bangun!” teriakan ibu yang semakin keras ditelinga, sambil menarik selimut ku.
Terbangunlah aku dari dunia kemalasan, dan aku bergegas kekamar mandi. Akhirnya semua nyawa sudah terkumpul, aku membuat segelas teh manis dan membawanya ke kursi depan rumah. Duduk manis memandangi tanaman di halaman depan rumah yang basah karena tadi hujan, “selamat pagi” sapa ku tak tertuju. Kini waktu nya bermain bersama pulpen dan buku catatan kecil, membuat perencanaan untuk tugas liputan siang nanti.
Aku Regita, salah satu mahasiswi di Universitas Negeri terkemuka di Kota Bandung. Dan aku mengambil jurusan jurnalistik, sehingga salah satu tugas yang harus ku kerjakan yaitu tugas liputan. Karena hari ini tidak ada kuliah, jadi ku manfaatkan saja waktunya untuk mengerjakan tugas liputan. Biasanya jika ada tugas liputan aku mengerjakan bersama-sama dengan teman, tapi kali ini aku akan mencoba mengerjakannya sendirian. Aku rasa aku pasti bisa, dan rencananya aku akan liputan kuliner Bandung. Aku segera mempersiapkan perlengkapan yang harus ku bawa seperti camera, pulpen, dan buku catatan.
Perjalanan pun ku mulai, dengan tujuan utama mendatangi tempat-tempat jajanan yang unik dan menarik. Setia budi menjadi incaran pertama ku, karena ada suatu hal yang membuat ku tertarik dengan kuliner di Setia budi. Mewawancarai pemilik dan pegawai setiap tempat jajanan yang kudatangi, selain itu tak lupa aku pun mewawancarai para pelanggan yang datang ke tempat jajanan tersebut. Kurang lebih tiga tempat jajanan yang menjadi sasaran tugas liputan ku, cukup melelahkan dan menantang keberanian ketika akan mewawancarai orang yang sebelumnya sama sekali tidak ku kenal. Keberanian menjadi salah satu modal menjadi seorang jurnalis.
Setelah berjam-jam mengerjakan tugas liputan rasanya cukup melelahkan, kebetulan disebrang sana ada warung yang menjual beragam minuman dan ku putuskan untuk sekedar beristirahat di warung itu. Seorang pelayan menghampiri ku “mau pesen apa teh manis?” tanya nya sopan kepada ku “oh enggak, jus sirsak ada?” jawabku sambil mencari tempat duduk yang kosong. “Dibungkus atau diminum disini?” tanya nya kembali sambil mengikuti ku “disini aja segelas yah” jawabku sambil duduk di kursi yang sudah ku dapatkan.
“Segelas aja teh manis?” tanya nya kembali kepada ku. Aku hanya tersenyum kebingungan, apa barusan aku lupa mengatakan tidak memesan teh manis. Tak lama kemudian pelayan yang tadi pun kembali menghampiri sambil membawa pesanan ku dan yang dia bawa benar-benar segelas jus sirsak bukan segelas teh manis, ntah lah kebingungan ku belum terjawab. Tanpa pikir panjang ku bayar saja jus nya, dan pelayan itu berkata “terimakasih teteh manis”.
Cerita Beda
Kita punya cerita yang berbeda. Aku saja yang selalu memaksakan
untuk menyamai cerita mu. Nyatanya kita tetap berbeda dan tak akan
pernah sama. Kamu sengaja bertingkah lebih santai dan tak banyak bicara
seperti ku, ya.... karena itu memang kamu. Dan aku selalu membuntuti mu
dan bergerak mengikuti langkah mu, sepertinya itu pekerjaan ku yang
sangat membuang-buang waktu.
Jelas kita berbeda, jelas kita tak sama dan aku mulai bisa mengerti itu. Sekarang ku berani melepas mu jauh, pergi saja sesuka mu. Tak akan ada lagi roda dibelakang yang terus mengikuti gerakan mu. Ketika kita berbicara hal yang sama, sesungguhnya aku tak pernah mengerti itu. Sepertinya upaya ku menyukai apa yang kamu sukai tidak bisa berujung dengan baik.
Ya sudah lah, kini malam yang semakin larut dan dahi yang sudah semakin mengkerut. Ku tegas kan sekali lagi kita punya cerita yang berbeda. Tapi kita punya satu harapan yang sama. Kita akan sama-sama mengetahuinya nanti.
Jelas kita berbeda, jelas kita tak sama dan aku mulai bisa mengerti itu. Sekarang ku berani melepas mu jauh, pergi saja sesuka mu. Tak akan ada lagi roda dibelakang yang terus mengikuti gerakan mu. Ketika kita berbicara hal yang sama, sesungguhnya aku tak pernah mengerti itu. Sepertinya upaya ku menyukai apa yang kamu sukai tidak bisa berujung dengan baik.
Ya sudah lah, kini malam yang semakin larut dan dahi yang sudah semakin mengkerut. Ku tegas kan sekali lagi kita punya cerita yang berbeda. Tapi kita punya satu harapan yang sama. Kita akan sama-sama mengetahuinya nanti.
Langganan:
Postingan (Atom)
