Tampilkan postingan dengan label Carita Pondok. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Carita Pondok. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 Februari 2015

Garis Nya

Teruntuk orang-orang yang gagal move on..
Cinta itu sederhana, jodoh itu ada...
Jangan terlalu takut dengan kehilangan..
Percaya atau tidak..
Kata- kata "kalau jodoh mah moal kamana" itu sudah banyak dibuktikan orang..

Sore tadi aku diberi kesempatan untuk pulang bersama dengan Dion (nama samaran). Kami memaksakan untuk melanjutkan perjalanan, walau Dion tak mengenakan helm. Sadar betul itu kesalahan, yang seharusnya tidak dilanggar. Namun, sebelumnya kami menyepakati untuk berhenti ketika bertemu polisi. Satu diantara kami harus turun dan jalan kaki hingga dirasa sudah aman.

Belum seperempat perjalanan, kami sudah melihat polisi dari kejauhan. Aku dan Dion tetap memaksa untuk melanjutkan perjalanan. Nyatanya rintagan itu bisa dilewati dengan aman dan nyaman. Tapi ditengah perjalanan, ketakutanku dipertemukan dengan polisi mulai timbul. Maka aku memutuskan untuk berhenti menyuruh Dion turun dan menunggu di sebrang jalan. Aku beri penjelasan yang detail di mana dia harus menunggu. Tanpa banyak pertanyaan ia bersedia.

Aku harus menempuh jalur yang lebih jauh sampai di tempat yang aku jelaskan pada Dion untuk menunggu. Nyatanya dia tidak nampak. Sudah sekitar 10 menit menunggu tidak ada juga, kontaknya pun tidak ada. Aku mulai kehilangan Dion, dan ku putuskan untuk kembali ke tempat di mana aku menurunkannya tadi. Sudah dua kali berkeliling, batang hidugnya tidak jua nampak. Aku hanya takut ia tidak tau arah, dan menunggu ku terlalu lama.

Aku kembali menunggu di tempat yang ku jelaskan pada Dion untuk menunggu tadi, sekitar 10 menit masih juga tidak ada. Dengan berat hati, aku mulai melanjutkan perjalanan pulang dengan kecepatan motor sangat pelan. Belum satu kilo meter, rasanya aku ingin berhenti untuk memastikan kalau Dion masih menunggu atau sudah pulang. Aku diam di pinggir jalan, mengabaikan dari angkot satu ke angkot lainnya yang melintas sambil menggenggam HP dengan resah.

Lama-lama pandanganku mulai memerhatikan angkot yang melintas, aku pikir Dion akan pulang naik angkot. Satu, dua angkot berlalu dan Dion tidak nampak. Akhirnya angkot yang ke tiga, dengan samar-samar dan ragu aku melihat perawakan Dion di dalamnya. Tapi tak ada pertanda Dion memberi aba- aba melihat ku. "Huh.." aku mulai lelah, tapi ya sudahlah aku memutuskan untuk mengejar angkot itu yang sudah beranjak jauh.

Akhirnya angkot itu berhenti tepat di depan motor ku berhenti. Dion memberi aba- aba yang diarahkan pada ku dari dalam angkot yang tidak begitu jelas. Dion turun dari angkot tanpa lupa membayarnya, dan menghampiri ku dengan wajah penuh tanya. Tanpa banyak basa- basi kami melanjutkan perjalanan dan bercerita banyak hal, lalu tertawa penuh warna.

Hahahaha... kisah di atas seperti kita dipisahkan dengan seseorang karena satu hal, lalu kita memilih jalan masing-masing. Harapan sudah hampir habis, dan putus asa. Namun ketika salah satu memiliki feel yang kuat, dan memutuskan untuk tetap berjuang, dan ketika takdir sudah menggariskan untuk berjodoh maka dengan jalan Nya kembali dipertemukan.Jangan terlalu berlaurut dalam kesedihan, percaya kalau jodoh gak akan kemana.

Senin, 14 Juli 2014

Cita-cita Jadi Pembantu, Masalah ???


Bermuka cemberut so imut, yang menjijikan itu ya tentu itu aku. Kenalkan Nita Juniati pertengahan 2014, yang semakin Gak Jelas (GJ). Dulu, sewaktu jaman-jaman masih kecil sekitar kelas 2 atau 3 SD aku punya cita-cita yang begitu menarik. "Pembantu" ya.... aku ingin jadi pembantu. Kalau diceritakan, apalasannya dulu aku pengen jadi pembantu huuuu... ceritanya panjang banget. Tapi walaupun sekarang aku masih mahasiswa yang kerjaannya suka nyari berita, suka siaran gak jelas, suka bikin film yang biasa aja, suka nyanyi-nyayian yang biasa juga. Seenggak nya semua itu udah jadi sebuah realita cita-cita aku dulu.

Aku udah membantu orang-orang untuk merasa ditemani, membantu orang-orang untuk mendapatkan informasi, dan lebih penting membantu orang-orang untuk merasakan rasa kesal, marah dan sebagainya atas tingkahku yang GJ ini. Hahahaha .... apalah arti semua gurauan ini. Aku tak akan pernah ada, dan bercerita se GJ ini, Kalau tak ada orang tua yang luar biasa. Mamah dan Papah, anak mu ini ingin selalu memberi yang terbaik untuk kalian.

Surat Untuk Sang Kekasih


Ketika aku pilu aku selalu bercerita sesuka hati. Termasuk menuliskan surat sebagai rasa kesalku kepada salah satu pelajaran sekolah, ketika UN mendapatkan nilai 9,5. Padahal nilai harianku tidak pernah lebih dari 8. Ada keajaiban apa yang datang??? Bukan kah itu suatu tanda tanya besar, untuk aku membenci satu mata pelajaran tersebut. Sehingga ku luncurkan saja satu surat untuk sang kekasih jaman sekolah. (Dokumen : Nita Juniati)

Kamis, 05 Juni 2014

Peri Kecil

Hai, Peri Kecil seharusnya kau temani aku. Kini aku merasa sendiri, mengapa kau pergi sebelum kau tampakan wajah mu yang cantik. Seharusnya kau tetap disini menari dan bernyanyi bersamaku. Jika masih ada, mungkin kau berada dekat dengan ku. Mencurahkan para parangeran yang menggumi mu.

   Kau, Peri Kecil mahkota ini seharusnya milik mu. Namun kini menjadi abadi di kepalaku. Tidak ada peri-peri lain yang ingin menjadi temanku. Kau tau? kepalaku sudah terlalu lelah mengenakan mahkota ini. Aku ingin melepasnya, memberikan pada keturunanku. Namun, Tuan belum jua mengijinkan ku untuk melepas mahkota ini.

   Peri Kecil, kau tau kan... aku bukan putri atau pun ratu. Aku sama saja seperti manusia-manusia lain. Tapi mengapa aku merasa dibebani dengan mahkota ini. Seakan gerak-gerik ku tak lepas dari perhatian. Kesalahan sekecil apapun, selalu menjadi teguran besar. Peri Kecil, tetaplah bercahaya. Tak lama, mungkin aku akan segera menemani mu disana. Akan ku ceritakan lebih jelas tentang mahkota ini padamu.

   Sebelum aku datang ke tempat mu, kau harus berkenalan dengan peri kecil lain yang sama dengan mu disana. Mungkin kau sudah kenal dia sebelum ku perintahkan, dia pun peri kecil yang manis seperti mu. Kau tau? dia peri kecil pujaan ku. Aku pun hanya mengenalnya lewat tulisan seorang pangeran, yang slalu menggambarkan sesosok peri kecil yang manis itu. Membaca tulisan pangeran itu, aku rindu pada mu peri kecil.

   Tolong bisikan, pada peri kecil manis teman mu itu, aku ingin berkenalan dengannya. Jika sempat, kelak aku menemui mu kau kenalkan aku padanya ya peri kecil. Nanti akan ku ceritakan juga kisah pangeran yang selalu menggambarkan peri kecil manis itu.

Kamis, 26 Desember 2013

Kecamuk Asa


Kata terlambat, hanya untuk orang-orang patah semangat. (nita)
Oleh : Nita Juniati
“Bosan”, kata itu yang berulang kali ku ucap. Tak senang lagi, jika harus bermain dan merangkai kata. “Aku bukan penulis hebat”, kata ku keras dalam dada. Aku memang tak punya bukti apapun, tak senang aku dengan dunia yang harus ku tekuni. Penulis, bukan menjadi pilihan menarik bagi ku. Tepatnya aku tak punya cita-cita tepat, masa depan yang masih abu. Kau tau abu-abu itu tak hitam serta tak putih. Berkali-kali ku menggelengkan kepala, menatap kegalauan yang hadir dipertentangan hati ini.
            Aku ingin, mata ku terpejam sejenak dan ketika ku bangun aku sudah hadir di surga-Nya disambut dayang-dayang manis dan bercahaya. Malas, aku sudah malas menemui arti hidup yang tak jelas ini. Teman ku sempat berkata, “jika kau ingin bebas, tulis dan ekspresikan sebebas-bebasnya tentang apa yang mau kau curahkan” katanya seakan memberi ku semangat. Namun sayang, aku bukan seseorang yang perlu motivator. Aku cukup tegas ketika itu, hati serta pikiran ku sudah cukup jelas “aku tidak suka menulis”.
            Lingkungan ku memaksa untuk terjun menulis. “menulis...menulis...menulis..” sekali lagi ingin ku muntah kan kata “bosan” yang sudah tak tertampung lagi dimulut ku. Membudah, saking bosan nya aku mendengar kata “menulis, penulis”. Aku sudah merasa salah jalan, berada dilingkungan seperti ini. Jika tekad ku kuat aku akan lari ke ujung dunia. Namun, aku tak punya banyak tenaga untuk sampai ke ujung dunia dengan berlari. Bahkan aku tak tau dimana letak ujung dunia. Referensi pun aku tak punya, jika diharuskan bertanya gengsi ku lebih besar.
            Beginilah cara ku mengekspresikan sebebas-bebasnya, biarkan hanya aku yang tau dan mengerti. Ini bukti, bahwa aku tak senang dengan dunia menulis. Aku tutup mata, dengan lingkungan yang memaksa sesuatu yang tak ku suka. Habislah aku dimakan waktu, tak ada yang menyadarkan ku dari gelapnya debu. Biarkan orang-orang semakin merasa tabu. Jelaskan saja aku memang tak menggebu.
***
            Hampir tiga tahun aku berada dilingkungan yang memaksa ku untuk giat menulis. Aku sempat tutup mata dengan keadaan itu, namun seseorang menarik ku untuk menyukai dunia menulis. Aku biasa saja, tak tertarik atau bahkan ingin mendalami dunia menulis. Aku sadar betul, bakat ku tak ada pada bidang itu. Sesekali aku memang mencoba melawan, dan sudah terbukti bahwa tidak ada hasil yang memuaskan.
            Sudah dua kali, tulisan ku ditolak oleh media. Aku yakin benar, tulisan ku tak layak cetak. Jelas saja, aku semakin tidak senang dengan dunia menulis. “menulis itu sulit, menulis itu bikin mumet, menulis itu ribet, pokoknya aku gak suka” gumam ku yang secara rutin ku katakan setiap kali membuat tulisan. Aku merasa semakin jatuh ketika tau tulisan-tulisan teman ku di muat di media, sedangkan aku? Tak satupun tulisan ku bisa disajikan di media. Aku cukup mengelus dada tanpa ada tanda tertarik atau termotivasi.
            “tulisan mu bagus, ada baiknya kalau kamu bikin blog. Ya minimal untuk wadah tulisan-tulisan yang gak dimuat di media.” Kata seorang laki-laki bertubuh tinggi, berkulit putih dan bersenyum manis. Aku tak kenal seseorang itu, bahkan mukanya saja asing dimata ku. Dia memuji tulisan yang acak-acakan di kertas kumal yang sempat aku  remas. “blog?” aku kebingungan dengan nama itu. Laki-laki itu tersenyum, setengah menyindir ku “iya blog, kamu bikin aja asal ada koneksi dengan internet dan kamu punya gmail semua akan mudah” jawabnya serasa mudah.
            “kalau kamu ngeblog, setidaknya kamu bisa mengeksplorasi ide-ide cemerlang kamu, atau apapun bisa kamu tulis sesuai keinginan mu .....” tambahnya menjelaskan panjang lebar tentang blog. Lama-lama aku semakin merasa laki-laki itu “seles blog”,aku cukup tersenyum-senyum dengan sedikit menampakan muka bego didepannya. Aku bergegas pulang kerumah, dengan berjibun  tugas yang harus ku kerjakan.
            Seperti biasa pekerjaan ku selalu berada didepan layar komputer, selain mengerjakan tugas sedikit merefresh otak dengan sekadar bermain games. Namun tidak dengan kali ini, aku menjadi penasaran akut. Aku mencari modem diantara tumpukan buku dimeja belajar, mencari ditumpukan bantal diatas kasur. “Oh my god, modem nya gak ada” kata ku sambil bercucuran keringat, kebingungan setengah abad mencari modem. Aku terkujur lemas, diatas kasur lelah mencari modem yang tak kunjung ku temui.
            Tiba-tiba seakan ilham datang menghampiri, “aha... sepertinya aku ingat” sambil terbangun dari kasur dan melangkahkan kaki menuju sebuah tempat diujung kamar. Akhirnya aku menemukan modem, yang aku taruh di lemari dan ku selipkan diantara baju-baju. Aku memang sengaja, menyelipkan modem ditempat yang sulit terjamah.Karena kakak ku suka menghambiskan kuota modem dan tak bertanggung jawab mengisinya kembali.
            Kembali aku duduk di depan layar komputer, mengaktifkan koneksi internet, tanpa pedulikan apapun aku langsung membuka googlechorme dan mencari cara membuat blog, bahkan aku masih bertanya blog itu apa. “Arrrgggghhhhh sial...... koneksi internetnya gagal terus” teriak ku kesal. Pikiran negatif ku langsung tertuju pada kakak, kakak memang selalu tau dimana aku menyimpan modem dan menghabiskan kuota.
            Aku kembali menjadi malas, malas melakukan segala aktifitas. Namun kasihan komputer yang sudah ku nyalakan, dan aku mencoba melawan segala macam setan-setan malas yang menghadang. Aku mulai membuka Ms. Word dan mencoba menguntai kata demi kata. Aku senang dengan sastra, menulis apa yang aku lihat dan aku rasa. Baru menyelesaikan satu kalimat, aku sudah kembali merasa pusing, apalagi yang bisa aku tulis. Kumatikan saja komputernya, tak tahan dengan rasa kesal dan pusing. Aku bergegas menuju kasur dan membaringan badan.
            Wajah ku tepat memandang langit-langit kamar, memikirkan laki-laki tadi. Dia bilang tulisan ku bagus, sepertinya dia meledek tulisan ku yang jelek luar biasa. Namun biarlah, bukan hal yang aneh jika orang lain meledek tulisan ku. Ada hal yang lebih membuat penasaran, “blog” aku masih bingung dengan blog. Apa yang bisa aku tuangkan pada blog, sedang kata laki-laki tadi blog itu adalah sebuah wadah untuk mengeksplorasi ide-ide cemerlang.
            Ku ambil secarik kertas, dan kembali melanjutkan tulisan yang tadi sempat ditulis di komputer. Aku menuliskan sesosok laki-laki tadi, yang membuat ku bertanya-tanya tentang blog. Hanya membuat sebuah puisi, namun berulang kali aku mengganti kertas, dan mencurat-coret tulisan ku. Rasa sulit kembali bergemuruh dalam dada, namun aku mencoba untu menepis semua itu.
Sedikit demi sedikit untaian kata mulai bisa terbaca. Aku hanya menaruh maksud yang tersirat. Apapun kata orang, tentang tulisan ku, aku harus bisa menerima. Ternyata tidak ada yang sulit, setelah mencoba. Aku hanya butuh beberapa waktu untuk menjawab rasa semangat ini.
***
Penasaran Akut
Oleh : Nita Juniati
Manis, rasanya kata itu manis ku dengar
Rasanya mata itu menunjukan hal yang lain
Aku menjadi tak tentu rasa
Memikirkan hal manis yang sosok itu katakan
Biarkan aku diam sejenak
Menyambut kata baru yang terucap
Biarkan aku menggebu mencari,
Mencari arti kata yang dia beri
“blog”
Apa itu, sebuah benda ataukah sifat
Dia katakan “blog” itu wadah
Ide cemerlang bisa ku tuang didalamnya
Buat aku bertanya keras
Sampai hati tak jua terhenti
Hingga ku merasa
Mengidap penasaran akut
***
            Akhirnya aku bisa menyelesaikan tulisan aneh ku, disecarik kertas. Gara-gara laki-laki yang tak ku kenal tadi. Aku baca berulang, tulisan yang baru ku selesaikan. Aku tersenyum, dan merasa lega. Aku hanya merasa senang, karena aku bisa melawan setan-setan yang menghadang. Aku tak perduli dengan hasil tulisan ku, yang aneh itu. Terpenting aku bisa mengeksplorasi rasa penasaran.
            Semangat ku kembali menggebu. Mataku langsung mengarah pada layar komputer. Terbangunlah aku dari kasur, lalu melangkah menghampiri komputer, dan kembali menyalakanya. Kembali membuka Ms. Word dan mengetik tulisan yang telah ku selesaikan disecarik kertas tadi. Hanya membutuhkan waktu beberapa menit saja, setelahnya penasaran ku terhadap “blog” masih saja menggebu.
Rasanya aku menemukan hal lain, seakan aku punya mimpi. Ku lihat waktu yang terus bergulir, tidak ada ya g terlambat mengejar asa.  Aku harus tau, apa itu blog dan segera membuatnya. Ketika media tak menerima tulisan ku, seperti laki-laki yang tak ku kenal itu katakan, aku bisa mengekplorasi ide–ide cermalangku lewat blog.

Menggebu-gebu lah rasa yang ada dalam diri. Ternyata menulis itu tak sesulit yang aku pikirkan. Hanya saja, aku tak mau bangun dari rasa yang telah jatuh. Tulisan ditolak di media, seharusnya menjadi cambuk untuk lebih semangat. Aku jadi semakin menggebu untuk segera membuat blog dan menuangkan ide-ide cermalang lewat tulisan. Secara terpaksa aku harus mengisi pulsa modem. Sayang uang didompet ku tak lebih dari Rp 10.000,- .

Jumat, 15 November 2013

Tidak Sendiri

Oleh : Nita Juniati

Udara yang cukup dingin dengan sedikit gemuruh suara-suara merdu anak adam. Bercerita asyik dari segala sudut, sedikit menemani kegundahan. Selain itu ku dengar merdunya kicauan burung, serta petikan gitar yang cukup menghibur. Namun sayang, seseorang yang ku tunggu tak jua datang menemani. Aku sendiri disini, tiada yang menyapa atau menghampiri kesendirian ini.
Bagaimana bisa aku terus berdiam sendiri, ditengah cuaca dingin nan segar ini. Aku butuh kawan untuk sekedar bercakap. Aku butuh kawan untuk sekedar berbagi senyum serta sendu. Namun ditengah kesendirian ini ada sesuatu yang cukup buat ku tersenyum kecil. Dari balik pintu hijau yang tak jauh dari pandangan ku, keluar beberapa orang laki-laki yang tengah memayang seorang perempuan yang pingsan. Beberapa detik aku terhipnotis melihat kejadian itu, namun tak lama dari itu aku segera tersadar. Seperti tak ada wanita-wanita kuat yang mampu memayang seorang wanita yang pingsan itu. Aku hanya sedang berpikir mengenai orang-orang diluar sana, yang sama-sama seperti ku melihat kejadian itu.
                Hahahaha.... sudah lupakan saja. Kembali dengan kesendirian ini. Aku seperti kehabisan cerita, melihat sekitar yang sama-sama saja. Padahal aku tau dia tidak akan hadir dipagi ini. Aku pun tak mengerti mengapa aku begitu senang dengan keadaan yang selalu menunggu sesuatu yang sudah pasti tidak akan menemui ku. Aku kehabisan jalan, kemana seharusnya aku melanjutkan perasaan ini. Padahal cukup disini, aku tak mau lagi melanjutkan rasa yang jelas tak terbalaskan.
                Aku masih cukup sadar diri untuk sekarang ini. Namun aku tak kuasa lagi melihat dia, bukan kah biasanya aku bersikap biasa menemui orang yang ku kagumi. Bahkan tak banyak orang yang bisa melihat bagaimana perasaan ku yang sebenarnya. Tapi kini seakan aku menceritakan semua hal yang ada dalam diri, semua ku katakan begitu terang walau memang tak mengalahkan terangnya mentari.
                Masih saja aku terbayang-bayang dengan senyumnya, yang memesona di bola mata ku. Suara musik dibelakang ku begitu merdu saja, menemani kesendirian ini. Seakan sedang berada dalam layar lebar, dengan soundtrack yang mewakili perasaan ini. Pikiran ku memberikan dua pilihan, tetap diam disini menunggu yang tidak akan datang atau segera lati dari tempat ini dan mencari suasana baru. Walau masih tetap dalam kesendirian.

                Sepertinya aku salah membuat motivasi, “jangan takut untuk bermimpi”. Sampai buat ku terus bermimpi, jelas saja aku tak mau bangun dari mimpi-mimpi yang tak nyata ini. Begini lah keadaan seorang wanita yang tengah terbuai dengan hati yang dinanti. Namun ini sedikit buat ku nyaman dibalik beban besar yang tengah menghadang. Ku akhiri saja cerita pagi ini, ku sudah ditemui kedua teman ku yang kembali mengajaku diam diteras sebrang sana. 

Rabu, 10 Juli 2013

Amburadul

Ini malu sekali rasanya, aku seakan diburu oleh segerombol cermin. Siapa diriku ini, yang tengah melamun didepan banyak orang yang hilir mudik. Setumpuk pikiran diotak ku, yang tengah membebani seluruh tubuh ini. Sakit.... ini jelas sakit, mengertilah ini benar-benar sakit. Aku lihat ada dia, melintas dihadap ku namun rasanya dia tak melihat ku.
Apa yang seharusnya menjadi fokus pikiran ku, semua seakan tak beres. Atau yang tidak beres ini memang tidak beres. Dia dimana dia ? Aku ingin sekali rasanya berteriak namanya, dan menyuruh dia untuk diam disampingku, namun namun namun dia tak pernah bisa ada disampingku. Dia terlalu sibuk, dia terlalu banyak urusan yang jelas tidak sama dengan ku. Aku diam aku hanya diam, aku cuma bisa diam. Mengertilah aku hanya diam. Tak banyak yang bisa ku kerjakan, selain menulis hal yang tidak jelas ini, aku jelas pusing ini sagat pusing, rasanya ingin sekali menangis, mengapa aku mengapa???? Aku sangat menyebalkan sekali, kenapa dengan aku ini.Kenapa? Aku sangat pusing sekali, aku tidak punya teman bercerita, tapi aku juga tidak bisa bercerita.
Apa ini maksudnya?
menceritakan hal yang amburadul seperti ini!!! Dasar ini terlalu amburadul.

Bandung, 10 July 2013

              Sahabat
                  di
               tempat


Assalamualaikum wr.wb

Hay, apa kabar? aku hanya sendiri dimalam yang sunyi, tentunya dikamar yang nyaman ini. Aku sungguh merasakan hal ganjil, tapi ini bukan horor seperti yang kau pikirkan. Hanya sebuah perasaan yang kurang saja. Sepertinya karena tidak bertemu dengan pujaan hati, hahahahahahahaha sial lagi-lagi menjadi pengagum rahasia. Pasti kau sedang menertawakan ku! Tapi, tertawa sajalah sepuasnya, aku sudah biasa dengan ledekan-ledekan kecil itu.
Dia semakin hebat saja, jauh berbeda dengan ku. Pekerjaan ku ya seperti ini, hanya bisa bercerita tentang rasa yang menggebu dalam hati. Tapi dia dapat menuliskan hal-hal luar biasa yang ia cari. Sungguh aku merasa sangat berada dibawah, ketika membaca tulisan-tulisan dia. Semakin kagum namun semakin membuat ku tahu diri siapa aku.
Kau pasti sudah bosan, mendengarkan aku menceritakan sesosok pujaan hati ku yang hebat itu. Tapi please untuk kali ini, aku benar-benar tidak bisa menahan kata-kata yang ingin terus membicarakannya. Hahahaha ya sepertinya aku sedang rindu berat. Dia yang tak pernah sedikitpun menyapa aku, dia yang tak pernah mempedulikan ku. Tapi tak apalah sudah bisa mengenalnya itu cukup buat ku. Aku tidak menyesali menyimpan rasa ini untuk orang yang belum tentu bisa ku miliki.
Ok..ok... mungkin aku cukupkan sekian saja, bercerita sedikit tentang pujaan hati ku. Ya... aku tahu kau sudah bosan dan tidak merespond pembicaraan ku lagi hahahahaha. Doakan aku tetap bisa tersenyum melihat dia bahagia. See you....... :)


Thaks very much


     Anonim

Rabu, 05 Juni 2013

Sholat Subuh Berjamaah

        Oleh : Nita Juniati

          "Allahuakbar allahuakbar..........." adzan subuh yang dikumandangkan laki-laki tua. Di mesjid bercat hijau dengan ruangan yang tidak terlalu besar. Rasa nyaman, damai, dan tentram terasa di dalamnya. Dengan kaligrafi yang menghiasi dindingnya.
          Terlihat laki-laki tua mendatangi mesjid untuk sholat subuh. Yang akhirnya hanya enam orang laki-laki tua yang melaksanakan sholat subuh berjamaah. Tak ada seorang pun pemuda yang datang untuk melaksanakan sholat subuh berjamaah. "Apa harus menunggu tua untuk rajin mengdatangi mesjid?" guyonan  seorang wanita yang tengah duduk mengamati.
          Mesjid yang ukurannya kecil pun terlihat luas. Tidak ada yang mengisi barisan-barisan kosong. Hanya satu barisan yang terisi. Suara yang tak lagi lantang dengan tubuh yang sudah renta masih memiliki semangat tinggi untuk melaksanakan sholat berjamaah dimesjid.
          "Setiap adzan subuh, yang terdengar kebanyakan suara kakek-kakek. Jarang bahkan tidak pernah mendengar suara anak muda" Ujar warga sekitar mesjid. Jauh dari mesjid menjadi alasan seorang pemuda enggan untuk sholat subuh di mesjid seperti yang di ungkapkan seorang pemuda "Bukan nya gak mau kemesjid, tapi jauh kemesjidnya, terkadang suka telat bangun jadi lebih baik sholat di rumah aja" ujarnya sambil tertawa.
          "Membangun mesjid bukan hanya untuk menjadi penghias kampung, tapi yah harus di manfaatkan untuk beribadah. Mau yang tua mau yang muda, melangkahlah kemesjid dengan niat beribadah karena Allah" Ujar laki-laki tua yang ditemui dimesjid.  

Cambuk-cambuk Menerkam

        oleh : Nita Juniati

         Apa yang terjadi dengan malam ini. Seakan semua pembicaraan terngiang ditelinga ku dengan jelas. Seruan motivasi yang tengah bermain-main di pikiran dan hati ku. "Siapa mereka? orang-orang hebat yang ku temui dimana?" gumam ku dalam hati. Seakan mereka mendobrak kemalasan yang ada malam ini.
        Jemari ku terus menari-nari diatas huruf yang acak-acakan ini. Yang tak begitu memperhatikan arah yang kan ku bawa. Aku masih ingin bertanya tentang mereka yang membuat ku senang dengan kegiatan seperti ini.
       Orang-orang besar yang akan ku temui suatu saat nanti. Kini mencoba merangkul ku menuju impian besar. Menyemangati, memotivasi, mendorong, membangun mimpi-mimpi pasti. Ntah dimana harus ku mulai semangat besar yang sedang berkobar. Ntah kapan memulai menekuni untuk menggapai impian besar.
        Cambuk-cambuk hebat yang terus mencambuk ku keras. Bukan sakit yang terasa, tapi rasa ingin meraih yang semakin berkobar. Bara api pun rasanya terkalahkan dengan semangat luar biasa ini. "Hai orang-orang hebat, datang darimana kalian? mengapa kita baru bertemu malam ini? bukan kah sebelumnya kita saling berbicara, tapi mengapa kalian baru mencambuk ku sekeras ini?" tanya ku yang tak mendapati jawaban.
         Malam ini tak ku temui angin, yang membawa ku terbang. Malam ini tak ku temui dingin yang membawa ku mencair. Malam ini yang ku temui hanya api-api besar yang datang menjadi cambuk. Malam ini dan benar-benar hanya malam ini, mereka datang seperti menerkam ku habis-habisan.



Selasa, 28 Mei 2013

Segelas Teh Manis

Pagi hari yang sudah dihiasi dengan rintik-rintik hujan, membuat ku semakin terlelap tidur. Sepertinya diatas mataku ada tumpukan batu-batu besar, berat sekali untuk dibuka. Kembali ku tarik selimut, dan mencari posisi tidur yang pas. Hujan pagi ini seakan membawa ku menari-nari dalam dunia kemalasan, seperti tidak ada tugas yang menanti.
“Regi!” teriakan ibu yang selalu menjadi pembuka setiap pagi dalam cerita hari-hari ku. “Regita ayo cepat bangun, anak gadis jam sembilan pagi belum bangun! Mau jadi apa kamu? Ayo cepat bangun!” teriakan ibu yang semakin keras ditelinga, sambil menarik selimut ku.
Terbangunlah aku dari dunia kemalasan, dan aku bergegas kekamar mandi. Akhirnya semua nyawa sudah terkumpul, aku membuat segelas teh manis dan membawanya ke kursi depan rumah. Duduk manis memandangi tanaman di halaman depan rumah  yang basah karena tadi hujan, “selamat pagi” sapa ku tak tertuju. Kini waktu nya bermain bersama pulpen dan buku catatan kecil, membuat perencanaan untuk tugas liputan  siang nanti.
Aku Regita, salah satu mahasiswi di Universitas Negeri terkemuka di Kota Bandung. Dan aku mengambil jurusan jurnalistik, sehingga salah satu tugas yang harus ku kerjakan yaitu tugas liputan. Karena hari ini tidak ada kuliah, jadi ku manfaatkan saja waktunya untuk mengerjakan tugas liputan. Biasanya jika ada tugas liputan aku mengerjakan bersama-sama dengan teman, tapi kali ini aku akan mencoba mengerjakannya sendirian. Aku rasa aku pasti bisa, dan rencananya aku akan liputan kuliner Bandung. Aku segera mempersiapkan perlengkapan yang harus ku bawa seperti camera, pulpen, dan buku catatan.
Perjalanan pun ku mulai, dengan tujuan utama mendatangi tempat-tempat jajanan yang unik dan menarik. Setia budi menjadi incaran pertama ku, karena ada suatu hal yang membuat ku tertarik dengan kuliner di Setia budi. Mewawancarai pemilik dan pegawai setiap tempat jajanan yang kudatangi, selain itu tak lupa aku pun mewawancarai para pelanggan yang datang ke tempat jajanan tersebut. Kurang lebih tiga tempat jajanan yang menjadi sasaran tugas liputan ku, cukup melelahkan dan menantang keberanian ketika akan mewawancarai orang yang sebelumnya sama sekali tidak ku kenal. Keberanian menjadi salah satu modal menjadi seorang jurnalis.
Setelah berjam-jam mengerjakan tugas liputan rasanya cukup melelahkan, kebetulan disebrang sana ada warung yang menjual beragam minuman dan ku putuskan untuk sekedar beristirahat di warung itu. Seorang pelayan menghampiri ku “mau pesen apa teh manis?” tanya nya sopan kepada ku “oh enggak, jus sirsak  ada?” jawabku  sambil mencari tempat duduk yang kosong. “Dibungkus atau diminum disini?” tanya nya kembali sambil mengikuti ku  “disini aja segelas yah” jawabku sambil duduk di kursi yang sudah ku dapatkan.
“Segelas aja teh manis?” tanya nya kembali kepada ku. Aku hanya tersenyum kebingungan, apa barusan aku lupa mengatakan tidak memesan teh manis. Tak lama kemudian pelayan yang tadi pun kembali menghampiri sambil membawa pesanan ku  dan yang dia bawa benar-benar segelas jus sirsak bukan segelas teh manis, ntah lah kebingungan ku belum terjawab. Tanpa pikir panjang ku bayar saja jus nya, dan pelayan itu berkata “terimakasih teteh manis”.

Cerita Beda

         
   Kita punya cerita yang berbeda. Aku saja yang selalu memaksakan untuk menyamai cerita mu. Nyatanya kita tetap berbeda dan tak akan pernah sama. Kamu sengaja bertingkah lebih santai dan tak banyak bicara seperti ku, ya.... karena itu memang kamu. Dan aku selalu membuntuti mu dan bergerak mengikuti langkah mu, sepertinya itu pekerjaan ku yang sangat membuang-buang waktu.
             Jelas kita berbeda, jelas kita tak sama dan aku mulai bisa mengerti itu. Sekarang ku berani melepas mu jauh, pergi saja sesuka mu. Tak akan ada lagi roda dibelakang yang terus mengikuti gerakan mu. Ketika kita berbicara hal yang sama, sesungguhnya aku tak pernah mengerti itu. Sepertinya upaya ku menyukai apa yang kamu sukai tidak bisa berujung dengan baik.
            Ya sudah lah, kini malam yang semakin larut dan dahi yang sudah semakin mengkerut. Ku tegas kan sekali lagi kita punya cerita yang berbeda. Tapi kita punya satu harapan yang sama. Kita akan sama-sama mengetahuinya nanti.

Selasa, 21 Mei 2013

Ini Tentang Firasat

Dua hari ini pikiran ku tak lepas tertuju kepadanya. Berlari sedetikpun rasanya sulit untuk berhenti mengingat. Kata ku cukup jelas menyebut namanya dalam diam. Aku jelas ingin bertemu dengan nya. Entah apa yang membuat seluruh pikiran ku tertuju pada nya. firasat buruk yang terus menggerogoti pikiran dan hati.
Ini bukan masalah perasaan jatuh yang dalam. Sayang firasat itu buram tak sepenuhnya nampak. "Ini hanya omong kosong" pikir ku muak. Jelas sudah, keadaan diri yang semakin tak menentu. Dia yang terus nampak disela-sela senyum yang berubah menjadi redup. "Ada apa dengan nya?" tanya ku kesal dalam diam.
Aku yang tak pernah berani menyebut nama nya. Aku yang tak pernah berani menyapa nya. Aku hanya pecundang yang hanya diam dalam keheningan. Tapi ini tentang firasat, yang tak pernah salah. Sekali lagi ku perjelas "Ini tentang firasat!!!". Aku dapati jawaban nyata. Itu jelas ditelinga ku, menggaung dalam keheningan.
Dan ini tentang firasat. Untuk kesekian kali, aku harus tetap diam dalam hening. Firasat yang hadir dalam diri, tak bisa diterawang siapapun. Kalian hanya dapat mengira-ngira, tapi kejelasnya, hanya aku, manusia yang tahu. Ini tentang firasat, biarkan burung meneruskan kicauannya. Dia tetap disana, dan firasat tetap mengawasi gerak nya.
Hanya berharap "Baik-baik".

Minggu, 14 April 2013

di Foto Jeung Top Score

Ditulis ku : Nita Juniati

           Ngalangkungan jalan nu ledok tur leueur. Langit nu tos hideung teu katembong biru. Ngarenghap bari nenangkeun hate, narimakeun kaelehan. Sagala usaha jeung do'a teu luepas dipiceun kitu wae, sumanget kudu tetep di cekel pikeun newak deui juara nu saenyana juara.
           Jurnalistik, panjeg ngibar dina hate. Kabeh jalma nyaksian permainan nu alus di cekel ku urang. Ngan kajayaan can waktu na kacekel. Tapi tetep urang kudu bisa narima, ikhlas jeung ridho Lillahitaa'la.
           Sahenteuna nu jadi top score aya di tim urang. Alhamdulillah kuring masih bisa difoto jeung top score. Sanajan seuri kapasa, ku sabab cape nu karasa.

Jumat, 12 April 2013

Tak Ada Waktu Cuci Piring

             Oleh : Nita Juniati

              Langit biru yang tak berubah jadi abu, memberi ku keterangan bahwa langit mendukung ku. Berjalan menyusuri setapak jalan yang tengah terhampar dihadap ku. Burung-burung berkicau dengan merdu dan suara jangkrik yang beradu. Sungguh apa yang harus ku lakukan terlebih dahulu. Berirama menemani perjalanan panjang yang tengah ku tempuh.
              Aku tak pernah tau mengapa rasanya semua terasa begitu cerah, dan memesona. Berlari dan meloncat-loncat kegirangan. Perasaan yang sedang berwarna merah jambu mungkin kah aku jatuh cinta? bersorak sorai mendapati senyum.
              Sesosok indah yang tengah bermain-main dipikiran ku. Senyum, tatapan, sapa, dan semua tentang nya. Ini cinta yang merangkul hati seakan semua menjadi terang benderang. Hampir semua waktu, ku habiskan untuk bercerita tentang sesosok senyum itu, berjalan seakan dia selalu hadir menemani. Cinta tergila yang tengah meratapi nasib ku. Lagu-lagu bahagia menjadi backsound  langkah perjalanan ku.
               Apa tak ada yang lebih indah dari ini? semua kelabu menjadi biru. Dunia ini seakan hanya ada dia dan aku. Tak ada hutan yang menyeramkan, yang ada hanya hutan berbunga cinta. Terpelosok aku di tempat rasa yang dalam ini, semua terhabiskan untuk memikirkan hal yang hanya menjadi pengharapan. Semua waktu tersita, untuk bercerita tentang cinta yang dalam ini.
               Bahkan kata  ku "sampai tak ada waktu untuk cuci piring". Karena cinta yang gila, menghabiskan banyak waktu untuk berharap dan bermimpi dalam khayal. Tak ada waktu untuk memikirkan sekeliling bahkan diri sendiri. "Cinta itu Indah, tapi bukan untuk disalah gunakan. Beri waktu untuk sekedar cuci piring." ujar ku tenggelam dalam malam.

Kamis, 11 April 2013

Percaya

 Oleh : Nita Juniati


Nie :
Bagaimana bisa aku mengerti sebuah perasaan yang tak pernah di ungkapkan. Jalanan yang panjang, tak bisa ku lalui jika ku tetap berdiam. Seharusnya aku tak pernah sadar tentang perasaan ini. Kau saja tak pernah mau bercerita dengan ku. Seakan tak ada lagi pemandangan yang bisa ku lihat selain mata mu. Pesona mu sungguh menggairahkan semangat ku. Tak henti-henti nya kau tak mengerti tentang tatapan dan raut senyum ku.
Kau seperti suka tak suka, kau seperti mau tak mau. Jangan-jangan kau hanya segenggam kisah yang terlanjur hidup di hamparan tanah. Aku tak mengerti apa yang kau maksud! Kau seakan datang dan hilang, tanpa pernah ku bisa memprediksi itu. Tingkah semau mu itu yang tak pernah bisa ku sukai. Ku terlanjur jatuh dalam pengertian perasaan ini. Jika harus memilih mungkin aku akan lebih berpihak pada sang diam dan tak tau apa-apa.
Percayalah langit kan tetap terang jika malam belum juga datang. Percayalah aku kan tetap setia jika kesabaran ku belum tergantikan. Kicauan burungpun kan tetap menemani dipagi hari, jika populasi burung tetap ada. Aku pun begitu nama mu kan tetap menemani pikiran ku, jika rasa itu tetap bersemayam di hati. Apa yang sesungguhnya kau ingin kan? Lihat aku dan perhatikan tingkah ku. Bagai daun-daun berguguran, yang berserakan di keseharian mu.
Anh:
Kau tau pagi segar?
Kau tau siang panas?
Kau tau malam gelap?
Kau tak tau teka-teki rasa yang terjadi!
Kini bukan waktu ku tuk bersuara, memberi pengertian di hati dan pikiran mu. Kini biarkan semua berjalan di koridor nya masing-masing. Aku akan tetap seperti ini, yang kan selalu menjadi teka-teki bagi siapa pun yang merasakan hal itu.
Aku punya mimpi, bukan sekedar rasa. Kau punya tanya, aku punya jawaban. Lihat saja satu persatu lengkah kaki ku, suatu ketika kau akan melihat kemana kaki ku menghadap. Begitupun dengan hati sang pemilik kaki.