Selasa, 10 Februari 2015

Cepet- cepet Nikah?

Satu atau dua tahun lagi sudah akan menikah, menurut catatan yang ku tulis jaman SD. Sekitar umur 23 atau 24 tahun rasanya memang cukup dan pas lah bagi seorang wanita. Semua hal sudah ku tuliskan tentang perencanaan dan konsep pernikahan. Sederhana tapi memuaskan, ya... yang diharapkan seperti itu. Biasanya sih kalau sudah tahap perencanaan, suka jadi mendadak darah tinggi (menurut yang berpengalaman).

Para calon yang akan segera melanjutkan ke jenjang pernikahan hahaha biasanya selalu diribetin sama hal ini dan itu. Tentu akan membuat kita merasa ribet dengan setumpuk tugas untuk mempersiapkan pesta pernikahan dengan sangat matang. Ini itu diribetin, masalah baju pernikahan aja bisa debat 2X 24 jam, udah kayak tamu wajib lapor aja hehehehe. Belum soal catering, undangan, konsep pelaminan, dan banyak hal. Rasa-rasanya kalau denger hal itu pengen dilewatin aja.

Eh tapi ternyata, menurut pengalaman dari yang udah nikah. Permasalahan untuk mempersiapakan pesta pernikahan hanya bagian terkecil dari ribuan masalah. Setelah menikah akan banyak hal yang lebih ribet dari pada itu semua. Nah kalau udah sampai pada permasalah itu, kayaknya aku jadi mikir panjang buat menetapkan menikah satu atau dua tahun lagi. Ooooo.... jadi seakan labil kayak gini ya.

Tips aja sih, yang ngalamin hal kayak aku gitu. Tetap tenang aja dan pastikan kamu siap dengan resiko apa yang akan kamu terima ketika memutuskan sesuatu.  Lalu jangan pernah lupakan hal terkecil untuk mempersiapkan segala hal, jangan terlalu banyak pilihan yang sekiranya membuat ribet, ingat semua keputusan tetap ada pada diri kita masing-masing. Oh ya... satu lagi menikah bukan soal menyatukan hati atara kita dengan si doi, tapi juga menyatukan dua keluarga. Sehingga kita harus betul-betul memikirkan dengan matang.

Tapi gak perlu juga jadi bimbang terus, akhirnya gak jadi nikah deh. Semua ada jalannya, ketika sudah waktunya segala sesuatu akan dipermudah. So.... jangan terburu-buru tapi tentukan dengan tepat dan cepat. -Nita Juniati-



Garis Nya

Teruntuk orang-orang yang gagal move on..
Cinta itu sederhana, jodoh itu ada...
Jangan terlalu takut dengan kehilangan..
Percaya atau tidak..
Kata- kata "kalau jodoh mah moal kamana" itu sudah banyak dibuktikan orang..

Sore tadi aku diberi kesempatan untuk pulang bersama dengan Dion (nama samaran). Kami memaksakan untuk melanjutkan perjalanan, walau Dion tak mengenakan helm. Sadar betul itu kesalahan, yang seharusnya tidak dilanggar. Namun, sebelumnya kami menyepakati untuk berhenti ketika bertemu polisi. Satu diantara kami harus turun dan jalan kaki hingga dirasa sudah aman.

Belum seperempat perjalanan, kami sudah melihat polisi dari kejauhan. Aku dan Dion tetap memaksa untuk melanjutkan perjalanan. Nyatanya rintagan itu bisa dilewati dengan aman dan nyaman. Tapi ditengah perjalanan, ketakutanku dipertemukan dengan polisi mulai timbul. Maka aku memutuskan untuk berhenti menyuruh Dion turun dan menunggu di sebrang jalan. Aku beri penjelasan yang detail di mana dia harus menunggu. Tanpa banyak pertanyaan ia bersedia.

Aku harus menempuh jalur yang lebih jauh sampai di tempat yang aku jelaskan pada Dion untuk menunggu. Nyatanya dia tidak nampak. Sudah sekitar 10 menit menunggu tidak ada juga, kontaknya pun tidak ada. Aku mulai kehilangan Dion, dan ku putuskan untuk kembali ke tempat di mana aku menurunkannya tadi. Sudah dua kali berkeliling, batang hidugnya tidak jua nampak. Aku hanya takut ia tidak tau arah, dan menunggu ku terlalu lama.

Aku kembali menunggu di tempat yang ku jelaskan pada Dion untuk menunggu tadi, sekitar 10 menit masih juga tidak ada. Dengan berat hati, aku mulai melanjutkan perjalanan pulang dengan kecepatan motor sangat pelan. Belum satu kilo meter, rasanya aku ingin berhenti untuk memastikan kalau Dion masih menunggu atau sudah pulang. Aku diam di pinggir jalan, mengabaikan dari angkot satu ke angkot lainnya yang melintas sambil menggenggam HP dengan resah.

Lama-lama pandanganku mulai memerhatikan angkot yang melintas, aku pikir Dion akan pulang naik angkot. Satu, dua angkot berlalu dan Dion tidak nampak. Akhirnya angkot yang ke tiga, dengan samar-samar dan ragu aku melihat perawakan Dion di dalamnya. Tapi tak ada pertanda Dion memberi aba- aba melihat ku. "Huh.." aku mulai lelah, tapi ya sudahlah aku memutuskan untuk mengejar angkot itu yang sudah beranjak jauh.

Akhirnya angkot itu berhenti tepat di depan motor ku berhenti. Dion memberi aba- aba yang diarahkan pada ku dari dalam angkot yang tidak begitu jelas. Dion turun dari angkot tanpa lupa membayarnya, dan menghampiri ku dengan wajah penuh tanya. Tanpa banyak basa- basi kami melanjutkan perjalanan dan bercerita banyak hal, lalu tertawa penuh warna.

Hahahaha... kisah di atas seperti kita dipisahkan dengan seseorang karena satu hal, lalu kita memilih jalan masing-masing. Harapan sudah hampir habis, dan putus asa. Namun ketika salah satu memiliki feel yang kuat, dan memutuskan untuk tetap berjuang, dan ketika takdir sudah menggariskan untuk berjodoh maka dengan jalan Nya kembali dipertemukan.Jangan terlalu berlaurut dalam kesedihan, percaya kalau jodoh gak akan kemana.

Senin, 14 Juli 2014

Cita-cita Jadi Pembantu, Masalah ???


Bermuka cemberut so imut, yang menjijikan itu ya tentu itu aku. Kenalkan Nita Juniati pertengahan 2014, yang semakin Gak Jelas (GJ). Dulu, sewaktu jaman-jaman masih kecil sekitar kelas 2 atau 3 SD aku punya cita-cita yang begitu menarik. "Pembantu" ya.... aku ingin jadi pembantu. Kalau diceritakan, apalasannya dulu aku pengen jadi pembantu huuuu... ceritanya panjang banget. Tapi walaupun sekarang aku masih mahasiswa yang kerjaannya suka nyari berita, suka siaran gak jelas, suka bikin film yang biasa aja, suka nyanyi-nyayian yang biasa juga. Seenggak nya semua itu udah jadi sebuah realita cita-cita aku dulu.

Aku udah membantu orang-orang untuk merasa ditemani, membantu orang-orang untuk mendapatkan informasi, dan lebih penting membantu orang-orang untuk merasakan rasa kesal, marah dan sebagainya atas tingkahku yang GJ ini. Hahahaha .... apalah arti semua gurauan ini. Aku tak akan pernah ada, dan bercerita se GJ ini, Kalau tak ada orang tua yang luar biasa. Mamah dan Papah, anak mu ini ingin selalu memberi yang terbaik untuk kalian.

Surat Untuk Sang Kekasih


Ketika aku pilu aku selalu bercerita sesuka hati. Termasuk menuliskan surat sebagai rasa kesalku kepada salah satu pelajaran sekolah, ketika UN mendapatkan nilai 9,5. Padahal nilai harianku tidak pernah lebih dari 8. Ada keajaiban apa yang datang??? Bukan kah itu suatu tanda tanya besar, untuk aku membenci satu mata pelajaran tersebut. Sehingga ku luncurkan saja satu surat untuk sang kekasih jaman sekolah. (Dokumen : Nita Juniati)

Pers Mahasiswa; Mengawasi Bukan Diawasi


Oleh Nita Juniati* 
Indonesia kini sudah tak asing lagi dengan kata pewarta atau yang sering kita dengar dengan sebutan wartawan atau bahkan jurnalis. Tersohornya profesi tersebut hingga dilahirkannya jurnalis-jurnalis dikalangan mahasiswa bahkan sekolah-sekolah menengah atas maupun sekolah menengah pertama. 

Lingkungan mahasiswa sudah tak asing lagi mendengar pers mahasiswa, yang selalu gencar dengan pemberitaan-pemberitaan kampus. Bisa jadi pemberitaan kritikan terhadap kampus, ataupun prestasi-prestasi dari kampus itu sendiri. Pers mahasiswa menjadi salah satu media untuk menuangkan aspirasi para mahasiwa lewat media.

                Tak dihiraukan idealisme seorang jurnalis kampus, dengan segala pemberitaan yang selalu memberikan informasi yang benar sebenar-benarnya tanpa ada pengaruh dari pihak birokrat kampus. Namun sangat disayangkan kucuran dana pers mahasiswa datang dari birokrat, yang dapat dengan mudah ketika pers mahasiswa memberitakan keritikan atau hal yang buruk dapat dengan mudah pemberitaan tersebut dicekal oleh para birokrat kampus.

                Kembali dipertanyakan idealisme seorang jurnalis yang sebenarnya itu berada dimana? Tak habis pikir, mengumandangkan dengan semangat “kebebasan pers” namun setelah berbicara dengan nilai rupiah, seakan semuanya lenyap tak ada arti apapun lagi, sunyi bagai malam tak bersuara. Kini hanya dapat menyimpulkan dunia jurnalis yang sebenarnya ada dimana? Ketika menjadi seorang jurnalis di salah satu media, mau tidak mau atau suka tidak suka seorang jurnalis harus menuruti segala hal yang diperintahkan oleh pemilik media tersebut.

                Begitupun dengan pers kampus, yang sering disebut-sebut sebagai jurnalis yang benar-benar mempertahankan idealismenya, nyatanya tak sepenuhnya begitu. Pihak birokrat masih memantau dan bahkan mengawasi setiap pemberitaan-pemberitaan. Jika kita kembali merenungkan, fungsi pers itu apa. Seakan semua tidak lagi beracu pada itu. Fungsi pers seharusnya untuk mengawasi apa-apa yang ada dikampus, bukan malah sebaliknya. Aneh memang aneh dengan keadaan dunia yang perputarannya semakin tidak jelas. Semakin tidak jelas untuk membedakan siapa yang salah dan siapa yang benar, dan lain sebagainya.

                Pers kampus tidak lagi menjadi gudang idealisme, ketika segala sesuatu sudah ditawarkan termasuk salah satunya beasiswa. Lalu idealisme itu seperti apa, apa idealisme harus mempertaruhkan harta, tahta, dan martabat bahkan nyawa sekalipun? Tak banyak mahasiswa yang bertahan dengan kata idealisme, ketika ada dua hal yang perlu dipertaruhkan, misalnya mencekal pemberitaan atau di Drop Out (DO).

Kamis, 05 Juni 2014

Peri Kecil

Hai, Peri Kecil seharusnya kau temani aku. Kini aku merasa sendiri, mengapa kau pergi sebelum kau tampakan wajah mu yang cantik. Seharusnya kau tetap disini menari dan bernyanyi bersamaku. Jika masih ada, mungkin kau berada dekat dengan ku. Mencurahkan para parangeran yang menggumi mu.

   Kau, Peri Kecil mahkota ini seharusnya milik mu. Namun kini menjadi abadi di kepalaku. Tidak ada peri-peri lain yang ingin menjadi temanku. Kau tau? kepalaku sudah terlalu lelah mengenakan mahkota ini. Aku ingin melepasnya, memberikan pada keturunanku. Namun, Tuan belum jua mengijinkan ku untuk melepas mahkota ini.

   Peri Kecil, kau tau kan... aku bukan putri atau pun ratu. Aku sama saja seperti manusia-manusia lain. Tapi mengapa aku merasa dibebani dengan mahkota ini. Seakan gerak-gerik ku tak lepas dari perhatian. Kesalahan sekecil apapun, selalu menjadi teguran besar. Peri Kecil, tetaplah bercahaya. Tak lama, mungkin aku akan segera menemani mu disana. Akan ku ceritakan lebih jelas tentang mahkota ini padamu.

   Sebelum aku datang ke tempat mu, kau harus berkenalan dengan peri kecil lain yang sama dengan mu disana. Mungkin kau sudah kenal dia sebelum ku perintahkan, dia pun peri kecil yang manis seperti mu. Kau tau? dia peri kecil pujaan ku. Aku pun hanya mengenalnya lewat tulisan seorang pangeran, yang slalu menggambarkan sesosok peri kecil yang manis itu. Membaca tulisan pangeran itu, aku rindu pada mu peri kecil.

   Tolong bisikan, pada peri kecil manis teman mu itu, aku ingin berkenalan dengannya. Jika sempat, kelak aku menemui mu kau kenalkan aku padanya ya peri kecil. Nanti akan ku ceritakan juga kisah pangeran yang selalu menggambarkan peri kecil manis itu.

Jumat, 27 Desember 2013

Peringati Hari Ibu; WSC Bagikan 250 Bunga

Peringati hari ibu, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Woman Studies Center (WSC) berbagi 250 bunga handmade di kampus UIN Bandung. Selain kegiatan bagi-bagi bunga, ada pula kegiatan mengajak mahasiswa untuk berpartisipasi memberikan tandatangan di kain putih yang disediakan panitia. Diakui Ira selaku Ketua WSC, bahwa kegiatan peringatan hari ibu merupakan acara rutinan. "Kalau bagi-bagi bunga kaya gini udah jadi acara rutinan tiap tahunnya, ya untuk memperingati hari ibu." jelasnya ketika ditemui di tempat kegiatan (23/12). Kegiatan peringatan hari ibu pun, mendapatkan apresiasi positif dari mahasiswa seperti yang di ungkap Gery Mahasiswa Teknik Informatika (TI). "Bagus acara nya, perlu diapresiasi. Untuk mengingat jasa ibu kepada anaknya" ujar Gery.

Partisipasi tanda tangan dari mahasiswa UIN.


Mahasiswa TI yang ikut berpartisipasi dalam kegiatan peringatan hari ibu.

Panitia yang tengah meramaikan kegiatan.

Mahasiswi berpartisipasi dalam kegiatan pengitan hari ibu.

Ira-Ketua WSC.

Mahasiwa turut berpatisipasi memberikan tanda tangan.

Foto : Nita Juniati 

Kamis, 26 Desember 2013

Kecamuk Asa


Kata terlambat, hanya untuk orang-orang patah semangat. (nita)
Oleh : Nita Juniati
“Bosan”, kata itu yang berulang kali ku ucap. Tak senang lagi, jika harus bermain dan merangkai kata. “Aku bukan penulis hebat”, kata ku keras dalam dada. Aku memang tak punya bukti apapun, tak senang aku dengan dunia yang harus ku tekuni. Penulis, bukan menjadi pilihan menarik bagi ku. Tepatnya aku tak punya cita-cita tepat, masa depan yang masih abu. Kau tau abu-abu itu tak hitam serta tak putih. Berkali-kali ku menggelengkan kepala, menatap kegalauan yang hadir dipertentangan hati ini.
            Aku ingin, mata ku terpejam sejenak dan ketika ku bangun aku sudah hadir di surga-Nya disambut dayang-dayang manis dan bercahaya. Malas, aku sudah malas menemui arti hidup yang tak jelas ini. Teman ku sempat berkata, “jika kau ingin bebas, tulis dan ekspresikan sebebas-bebasnya tentang apa yang mau kau curahkan” katanya seakan memberi ku semangat. Namun sayang, aku bukan seseorang yang perlu motivator. Aku cukup tegas ketika itu, hati serta pikiran ku sudah cukup jelas “aku tidak suka menulis”.
            Lingkungan ku memaksa untuk terjun menulis. “menulis...menulis...menulis..” sekali lagi ingin ku muntah kan kata “bosan” yang sudah tak tertampung lagi dimulut ku. Membudah, saking bosan nya aku mendengar kata “menulis, penulis”. Aku sudah merasa salah jalan, berada dilingkungan seperti ini. Jika tekad ku kuat aku akan lari ke ujung dunia. Namun, aku tak punya banyak tenaga untuk sampai ke ujung dunia dengan berlari. Bahkan aku tak tau dimana letak ujung dunia. Referensi pun aku tak punya, jika diharuskan bertanya gengsi ku lebih besar.
            Beginilah cara ku mengekspresikan sebebas-bebasnya, biarkan hanya aku yang tau dan mengerti. Ini bukti, bahwa aku tak senang dengan dunia menulis. Aku tutup mata, dengan lingkungan yang memaksa sesuatu yang tak ku suka. Habislah aku dimakan waktu, tak ada yang menyadarkan ku dari gelapnya debu. Biarkan orang-orang semakin merasa tabu. Jelaskan saja aku memang tak menggebu.
***
            Hampir tiga tahun aku berada dilingkungan yang memaksa ku untuk giat menulis. Aku sempat tutup mata dengan keadaan itu, namun seseorang menarik ku untuk menyukai dunia menulis. Aku biasa saja, tak tertarik atau bahkan ingin mendalami dunia menulis. Aku sadar betul, bakat ku tak ada pada bidang itu. Sesekali aku memang mencoba melawan, dan sudah terbukti bahwa tidak ada hasil yang memuaskan.
            Sudah dua kali, tulisan ku ditolak oleh media. Aku yakin benar, tulisan ku tak layak cetak. Jelas saja, aku semakin tidak senang dengan dunia menulis. “menulis itu sulit, menulis itu bikin mumet, menulis itu ribet, pokoknya aku gak suka” gumam ku yang secara rutin ku katakan setiap kali membuat tulisan. Aku merasa semakin jatuh ketika tau tulisan-tulisan teman ku di muat di media, sedangkan aku? Tak satupun tulisan ku bisa disajikan di media. Aku cukup mengelus dada tanpa ada tanda tertarik atau termotivasi.
            “tulisan mu bagus, ada baiknya kalau kamu bikin blog. Ya minimal untuk wadah tulisan-tulisan yang gak dimuat di media.” Kata seorang laki-laki bertubuh tinggi, berkulit putih dan bersenyum manis. Aku tak kenal seseorang itu, bahkan mukanya saja asing dimata ku. Dia memuji tulisan yang acak-acakan di kertas kumal yang sempat aku  remas. “blog?” aku kebingungan dengan nama itu. Laki-laki itu tersenyum, setengah menyindir ku “iya blog, kamu bikin aja asal ada koneksi dengan internet dan kamu punya gmail semua akan mudah” jawabnya serasa mudah.
            “kalau kamu ngeblog, setidaknya kamu bisa mengeksplorasi ide-ide cemerlang kamu, atau apapun bisa kamu tulis sesuai keinginan mu .....” tambahnya menjelaskan panjang lebar tentang blog. Lama-lama aku semakin merasa laki-laki itu “seles blog”,aku cukup tersenyum-senyum dengan sedikit menampakan muka bego didepannya. Aku bergegas pulang kerumah, dengan berjibun  tugas yang harus ku kerjakan.
            Seperti biasa pekerjaan ku selalu berada didepan layar komputer, selain mengerjakan tugas sedikit merefresh otak dengan sekadar bermain games. Namun tidak dengan kali ini, aku menjadi penasaran akut. Aku mencari modem diantara tumpukan buku dimeja belajar, mencari ditumpukan bantal diatas kasur. “Oh my god, modem nya gak ada” kata ku sambil bercucuran keringat, kebingungan setengah abad mencari modem. Aku terkujur lemas, diatas kasur lelah mencari modem yang tak kunjung ku temui.
            Tiba-tiba seakan ilham datang menghampiri, “aha... sepertinya aku ingat” sambil terbangun dari kasur dan melangkahkan kaki menuju sebuah tempat diujung kamar. Akhirnya aku menemukan modem, yang aku taruh di lemari dan ku selipkan diantara baju-baju. Aku memang sengaja, menyelipkan modem ditempat yang sulit terjamah.Karena kakak ku suka menghambiskan kuota modem dan tak bertanggung jawab mengisinya kembali.
            Kembali aku duduk di depan layar komputer, mengaktifkan koneksi internet, tanpa pedulikan apapun aku langsung membuka googlechorme dan mencari cara membuat blog, bahkan aku masih bertanya blog itu apa. “Arrrgggghhhhh sial...... koneksi internetnya gagal terus” teriak ku kesal. Pikiran negatif ku langsung tertuju pada kakak, kakak memang selalu tau dimana aku menyimpan modem dan menghabiskan kuota.
            Aku kembali menjadi malas, malas melakukan segala aktifitas. Namun kasihan komputer yang sudah ku nyalakan, dan aku mencoba melawan segala macam setan-setan malas yang menghadang. Aku mulai membuka Ms. Word dan mencoba menguntai kata demi kata. Aku senang dengan sastra, menulis apa yang aku lihat dan aku rasa. Baru menyelesaikan satu kalimat, aku sudah kembali merasa pusing, apalagi yang bisa aku tulis. Kumatikan saja komputernya, tak tahan dengan rasa kesal dan pusing. Aku bergegas menuju kasur dan membaringan badan.
            Wajah ku tepat memandang langit-langit kamar, memikirkan laki-laki tadi. Dia bilang tulisan ku bagus, sepertinya dia meledek tulisan ku yang jelek luar biasa. Namun biarlah, bukan hal yang aneh jika orang lain meledek tulisan ku. Ada hal yang lebih membuat penasaran, “blog” aku masih bingung dengan blog. Apa yang bisa aku tuangkan pada blog, sedang kata laki-laki tadi blog itu adalah sebuah wadah untuk mengeksplorasi ide-ide cemerlang.
            Ku ambil secarik kertas, dan kembali melanjutkan tulisan yang tadi sempat ditulis di komputer. Aku menuliskan sesosok laki-laki tadi, yang membuat ku bertanya-tanya tentang blog. Hanya membuat sebuah puisi, namun berulang kali aku mengganti kertas, dan mencurat-coret tulisan ku. Rasa sulit kembali bergemuruh dalam dada, namun aku mencoba untu menepis semua itu.
Sedikit demi sedikit untaian kata mulai bisa terbaca. Aku hanya menaruh maksud yang tersirat. Apapun kata orang, tentang tulisan ku, aku harus bisa menerima. Ternyata tidak ada yang sulit, setelah mencoba. Aku hanya butuh beberapa waktu untuk menjawab rasa semangat ini.
***
Penasaran Akut
Oleh : Nita Juniati
Manis, rasanya kata itu manis ku dengar
Rasanya mata itu menunjukan hal yang lain
Aku menjadi tak tentu rasa
Memikirkan hal manis yang sosok itu katakan
Biarkan aku diam sejenak
Menyambut kata baru yang terucap
Biarkan aku menggebu mencari,
Mencari arti kata yang dia beri
“blog”
Apa itu, sebuah benda ataukah sifat
Dia katakan “blog” itu wadah
Ide cemerlang bisa ku tuang didalamnya
Buat aku bertanya keras
Sampai hati tak jua terhenti
Hingga ku merasa
Mengidap penasaran akut
***
            Akhirnya aku bisa menyelesaikan tulisan aneh ku, disecarik kertas. Gara-gara laki-laki yang tak ku kenal tadi. Aku baca berulang, tulisan yang baru ku selesaikan. Aku tersenyum, dan merasa lega. Aku hanya merasa senang, karena aku bisa melawan setan-setan yang menghadang. Aku tak perduli dengan hasil tulisan ku, yang aneh itu. Terpenting aku bisa mengeksplorasi rasa penasaran.
            Semangat ku kembali menggebu. Mataku langsung mengarah pada layar komputer. Terbangunlah aku dari kasur, lalu melangkah menghampiri komputer, dan kembali menyalakanya. Kembali membuka Ms. Word dan mengetik tulisan yang telah ku selesaikan disecarik kertas tadi. Hanya membutuhkan waktu beberapa menit saja, setelahnya penasaran ku terhadap “blog” masih saja menggebu.
Rasanya aku menemukan hal lain, seakan aku punya mimpi. Ku lihat waktu yang terus bergulir, tidak ada ya g terlambat mengejar asa.  Aku harus tau, apa itu blog dan segera membuatnya. Ketika media tak menerima tulisan ku, seperti laki-laki yang tak ku kenal itu katakan, aku bisa mengekplorasi ide–ide cermalangku lewat blog.

Menggebu-gebu lah rasa yang ada dalam diri. Ternyata menulis itu tak sesulit yang aku pikirkan. Hanya saja, aku tak mau bangun dari rasa yang telah jatuh. Tulisan ditolak di media, seharusnya menjadi cambuk untuk lebih semangat. Aku jadi semakin menggebu untuk segera membuat blog dan menuangkan ide-ide cermalang lewat tulisan. Secara terpaksa aku harus mengisi pulsa modem. Sayang uang didompet ku tak lebih dari Rp 10.000,- .

Jumat, 20 Desember 2013

Bedebah

Oleh : Nita Juniati

Kejam!!!
Siapa bilang kau kejam?
Aku senang, bermain tanda
Jangan bilang, aku kejam
Aku tak bilang kau kejam, tuan
Aku mencium wewangian
wangi tikus busuk!
Aku memandang keindahan
indah nya sampah yang menggunung!
Lihat !!!!
Lihat, kerah kemeja mu tuan
Ada lubang air mata, yang kau abaikan
Lihat !!!!
Lihat, mengkilatnya sepatu mu tuan
Ada tangan-tangan merangkak ketakutan
Anggap saja dunia ini milik mu, tuan
Hati-hati, telunjuk mu sakral
Sejauh mana kau debah
Kami, kami ini


Minggu, 15 Desember 2013

Sungai Cikapundung

 Prolog :  
          Awal bulan desember 2013, saya lupa tanggal berapa.Ceritanya saya akan liputan untuk jurnal TV, namun saya belum mempersiapkan apapun termasuk topik apa yang akan saya liput. Saya dan salah satu teman kelas saya, sebut saja Masitoh. Bertekad saja melanjutkan perjalanan, kami naik angkot Sukajadi dari Alun-alun Bandung dan kami turun di PVJ. Kami berjalan  cukup jauh, menyusuri jalanan yang sedikit becek. Sampai di Jembatan Surapati, dan kami masuk ke bawah jembatan, dimana ketika itu keadaan di bawah jembatan cukup denting. Kami melanjutkan perjalanan dan ternyata kami masuk pemukiman warga yang bergitu padat. Bahkan gang-gang yang kami lewati, sangat sempit sekali. Ternyata disana kami menemukan aliran Sungai Cikapundung. Lalu datang lah sebuah ilham kepada kami, untuk meliput Sungai Cikapundung. Kami langsung meminta izin kepada RT setempat untuk mengambil gambar, dan kami diperbolehkan walau langsung di usir dari rumahnya. Alhamdulillah atas izin Allah dan semua pihak yang mrndukung, saya dan Masitoh bisa menyelesaikan liputan yang tak lepas dari godaan serta rintangan yang menghadang. Walaupun dengan hasil yang jauh dari maksimal, saya masih tetap bersyukur karena saya masih bisa menyelesaikan tugas tepat waktu. Alhamdulillah

SELAMAT MENYAKSIKAN



Sabtu, 07 Desember 2013

Identifikasi dan Pengumpulan Barang Bukti

Ditemukan bayi yang sudah tak bernyawa di dalam tas, di warung pinggir jalan di daerah Cipadung, Kota Bandung. Diduga bayi dibuang sekitar satu atau dua hari yang lalu, karena menurut warga setempat warung tersebut sudah tutup selama dua hari ini. Mayat bayi yang ditemukan menimbulkan bau busuk yang sangat menyengat. Polisi masih dalam proses indentifikasi serta pengumpulan barang bukti (07/12).







Dokumen : Nita Juniati

\

Minggu, 01 Desember 2013

Pembangunan UIN Sgd Bandung


Menanggapi, serta memberi solusi untuk kampus kita. Mengapa tidak, berbagi informasi dengan Kupas Kampus.
Kupas Kampus kali ini, menanggapi mengenai pembangunan UIN Sgd Bandung. Bagaimana tanggapan, serta solusi dari mahasiswa UIN Sgd Bandung? mari kita simak liputan Kupas Kampus edisi perdana
.




Selasa, 26 November 2013

Bermalam di Kota Angin "Majalengka"














Dokumen : M Rizky TS

Nyaah Ka Mamah Sareng Ka Bapak





Dokumen : Pribadi 

Brithday Moment with My Friends 2012








Dokumen : Pribadi

Sungguh

oleh : Nita Juniati

Tuhan ciptakan kedua bola mata
untuk melihat hal terindah
Tuhan ciptakan hati
dan berikan keleluasaan untuk berperasaan

Namun aku tak pernah sadar
Engkau ciptakan titik terang
ditengah gelap gulitanya keadaan
bukan sulit, hanya lelah mencari

Lelah melangkah, percuma terdiam!
sesal ku yang tak tampak
merobek tangisan tak berair mata
sungguh .....
teka-teki Mu Indah

Sabtu, 23 November 2013

Mengukir Prestasi dari Hobi Sederhana

Oleh : Nita Juniati

           Fahmi Islami, dengan sosoknya yang periang  memiliki beberapa hobi sederhana. Diakuinya menggambar menjadi salah satu hobi yang ia sukai sejak kecil. “sejak kecil suka iseng-iseng ngegambar super hero dibuku” ujarnya ketika ditemui di gedung Z UIN Bandung (15/05). “Hobi menggambar bagi saya, untuk mengeksplorasi unek-unek yang ada dan dituangkan dalam gambar” tuturnya.
                Menggambar tak hanya menjadi sebuah hobi yang membatu. Keahliannya dalam menggambar, mengukir sebuah prestasi baginya. Beberapa kali karyanya di muat di salah satu media massa nasional. Namun, sampai detik ini laki-laki asli Bandung itu belum pernah mengikuti kompetisi gambar. “ jadi ya hobi saya bukan untuk dikompetisikan, dan memang belum kepikiran untuk mengikuti kompetisi dibidang itu” ungkapnya sambil tersenyum kecil.
                Tak sampai disitu, selain hobi nya dalam menggambar laki-laki kelahiran 20 Agustus itu memiliki hobi bermain bola. Baginya bermain bola dan menggambar adalah suatu hal yang mirip-mirip. “menggambar itu menggoreskan coretan menjadi sebuah karya begitupun main bola membuat drible-drible agar mencetak gol untuk sebuah kemenangan”.
                Lain dengan hobi menggambar yang belum pernah diikut sertakan dalam kompetisi. Hobi bermain bola justru ia mengikuti beberapa kompetisi. Nama nya pernah tercatat sebagai pemain terbaik dalam liga sepak bola antar jurusan se-UIN Bandung tahun 2011. Hobi nya yang sederhana jelas mengukir prestasi baginya.
                Hobi nya dalam menggambar dan bermain bola. Bukan berarti ia tidak menyukai dunia tulis menulis yang menjadi salah satu keharusan mahasiswa jurnalistik. Ia pun mulai menekuni dunia menulis. “ Kalau buat nulis, suka sih. Tapi saya lebih suka nulis sastra” aku salah satu mahasiswa jurnalistik 2011 itu.
                Dalam hobi-hobi sederhana yang dimiliki nya, ia membuat rencana untuk menggabungkan hobi nya menjadi sebuah karya. “rencana dekat-dekat ini pengen buat komik, dimana dalam komik itu menceritakan tentang kompetisi bola” paparnya. Hobi menggambar, menulis, dan bermain bola bisa ia satu padukan dalam komik yang akan segera ia garap. Menurutnya kunci dari ukiran-ukiran prestasi, bukan dari bisa atau tidak bisanya meraih prestasi tetapi mau atau tidak meraih nya.

Jumat, 15 November 2013

Tidak Sendiri

Oleh : Nita Juniati

Udara yang cukup dingin dengan sedikit gemuruh suara-suara merdu anak adam. Bercerita asyik dari segala sudut, sedikit menemani kegundahan. Selain itu ku dengar merdunya kicauan burung, serta petikan gitar yang cukup menghibur. Namun sayang, seseorang yang ku tunggu tak jua datang menemani. Aku sendiri disini, tiada yang menyapa atau menghampiri kesendirian ini.
Bagaimana bisa aku terus berdiam sendiri, ditengah cuaca dingin nan segar ini. Aku butuh kawan untuk sekedar bercakap. Aku butuh kawan untuk sekedar berbagi senyum serta sendu. Namun ditengah kesendirian ini ada sesuatu yang cukup buat ku tersenyum kecil. Dari balik pintu hijau yang tak jauh dari pandangan ku, keluar beberapa orang laki-laki yang tengah memayang seorang perempuan yang pingsan. Beberapa detik aku terhipnotis melihat kejadian itu, namun tak lama dari itu aku segera tersadar. Seperti tak ada wanita-wanita kuat yang mampu memayang seorang wanita yang pingsan itu. Aku hanya sedang berpikir mengenai orang-orang diluar sana, yang sama-sama seperti ku melihat kejadian itu.
                Hahahaha.... sudah lupakan saja. Kembali dengan kesendirian ini. Aku seperti kehabisan cerita, melihat sekitar yang sama-sama saja. Padahal aku tau dia tidak akan hadir dipagi ini. Aku pun tak mengerti mengapa aku begitu senang dengan keadaan yang selalu menunggu sesuatu yang sudah pasti tidak akan menemui ku. Aku kehabisan jalan, kemana seharusnya aku melanjutkan perasaan ini. Padahal cukup disini, aku tak mau lagi melanjutkan rasa yang jelas tak terbalaskan.
                Aku masih cukup sadar diri untuk sekarang ini. Namun aku tak kuasa lagi melihat dia, bukan kah biasanya aku bersikap biasa menemui orang yang ku kagumi. Bahkan tak banyak orang yang bisa melihat bagaimana perasaan ku yang sebenarnya. Tapi kini seakan aku menceritakan semua hal yang ada dalam diri, semua ku katakan begitu terang walau memang tak mengalahkan terangnya mentari.
                Masih saja aku terbayang-bayang dengan senyumnya, yang memesona di bola mata ku. Suara musik dibelakang ku begitu merdu saja, menemani kesendirian ini. Seakan sedang berada dalam layar lebar, dengan soundtrack yang mewakili perasaan ini. Pikiran ku memberikan dua pilihan, tetap diam disini menunggu yang tidak akan datang atau segera lati dari tempat ini dan mencari suasana baru. Walau masih tetap dalam kesendirian.

                Sepertinya aku salah membuat motivasi, “jangan takut untuk bermimpi”. Sampai buat ku terus bermimpi, jelas saja aku tak mau bangun dari mimpi-mimpi yang tak nyata ini. Begini lah keadaan seorang wanita yang tengah terbuai dengan hati yang dinanti. Namun ini sedikit buat ku nyaman dibalik beban besar yang tengah menghadang. Ku akhiri saja cerita pagi ini, ku sudah ditemui kedua teman ku yang kembali mengajaku diam diteras sebrang sana.